Projek Ubin : Studi Kasus Blockchain

Pada teknologi DLT, skenario akan berjalan sebagai berikut. A mengirimkan 100 dollar SGD dalam bentuk token langsung (peer-to-peer) kepada B tanpa melalui suatu perantara (bank sentral). B dapat mencairkan token bernilai 100 dollar SGD.

Pertanyaannya siapa yang menerbitkan token tersebut ? Siapa yang memvalidasi ? Siapa yang akan mekanisme apa yang dapat menambah dan mengurangi jumlah token pada bank A dan bank B ?.

Cerita seru dibalik layarnya begini. MAS sebagai bank central menerbitkan token SGD, setiap bank yang berpartisipasi memiliki komitmen/perjanjian membeli/mencairkan token SGD. Token SGD yang beredar di lingkungan bank-bank yang berpartisipasi hanya bisa digunakan untuk tujuan tertentu seperti pembayaran, tidak bisa digunakan untuk hal lain. Ketika nasabah A pada rekening di Bank A mengirimkan 100 dolar SGD ke B di rekening Bank B, maka ada bentuk jumlah 100 dollar SGD yang diwakilkan oleh sebuah Token, yaitu 100 Token SGD pada account blockchain nasabah A di bank A. B sebagai nasabah yang akan menerima dana, juga memiliki account blockchain pada bank B. Jadi ketika proses transfer dari A ke B sejumlah 100 dollar SGD, sesungguhnya teknologi DLT yang mewakili proses transfer ala blockchain ini. Kita tahu pada lingkungan blockchain tidak diperlukan pihak ketiga/penengah, semua proses dilakukan langsung antara 2 pihak. Berbeda dengan proses tranfer konvensional antar bank yang memerlukan bank sentral sebagai pihak yang dipercaya untuk melakukan pengesahan transaksi ini. Pada blockchain, proses pengesahan dilakukan melalui mekanisme algoritma konsensus, entah itu proof of work, proof of stake, proof of delegated stake, proof of authority ataupun proof of lainnya.

Pada kasus project ubin, ada 9 institusi keuangan yang berpartisipasi seperti (1) Bank of America Merrill Lynch, (2) Credit Suisse, (3) DBS Bank, (4) The Hongkong And Shanghai Banking Corporation Limited, (5) J.P. Morgan, (6) Mitsubishi UFJ Financial Group, (7) OCBC Bank, (8) Singapore Exchange, (9) UOB Bank. Jadi kemungkinan ada ratusan node atau ribuan node yang digunakan untuk menunjang teknolog DLT blockchain ini. Data ledger terdistribusi di setiap nodes, akan tetap aman , tidak dapat diubah, akan senantiasa melakukan rekonsiliasi automatis setiap terjadi transaksi. Berbeda dengan system konvensional dimana setiap bank memiliki ledger private, dilindungi oleh system keamanan tercanggih agar mencegah hacker melakukan perubahan data.

6 keunggulan teknologi DLT adalah

(1) Disintermediate. Adalah model peer-to-peer dimana setiap komputer yang terhubung adalah server dan client, meniadakan middleman, memungkinkan transaksi langsung antar 2 pihak tanpa campur tangan pihak penengah.

(2) Secured by cryptography. Mengunakan system public key dan private key, setiap nasabah memiliki account/wallet dalam bentuk public key, untuk melakukan pemindahan dana, nasabah tersebut menggunakan private key sebagai password. Setiap transaksi akan dicatat dalam ledger pada suatu block. Setiap block menyimpan ratusan atau ribuan transaksi. Catatan seluruh transaksi akan di-`hash` dan digunakan sebagai penanda untuk dikaitkan pada block berikutnya. Segala perubahan yang terjadi akan merubah bentuk ‘`hash` sehingga system dapat mengenali bahwa data transaksi pada block ini sedang mengalami perubahan. Block berikutnya yang memiliki kondisi `hash` asli akan menolak block tersebut dan mengembalikan keadaan semula.

(3) Smart contract dan oracle(data). Proses pembayaran dari Nasabah A ke nasabah B dapat diatur melalui kondisi seperti apabila B sudah melakukan delivery kepada A, maka A dapat melakukan `release` payment ke B. bila kondisi tidak dipenuhi pada jangka tertentu, maka tidak ada proses pembayaran.

(4) Immutable, data pada DLT kebal terhadap perubahan, kebal terhadap serangan denial services of attack, kebal fraud dan kebal sensor. Bila data ledger ada disetiap nodes, ada di-ratusan, ribuan atau ratusan ribu komputer, bagaimana cara hacker melakukan usaha perubahan data?, bagaimana cara melakukan ddos attack ?

(5) Realtime settlement. DLT memungkinkan terjadinya transfer seketika, menghilangkan friksi dan mengurangi resiko. Pada teknologi blockchain, mengirikan dana/uang semudah mengirimkan email, terjadi seketika.

(6) Trustless. DLT tidak memerlukan pihak yang dipercaya, agar 2 pihak bersedia bertransaksi, karena system DLT/blockchain sendiri sudah dapat dipercaya / sanggup memfasilitasi transaksi antara 2 pihak tanpa perlu hadir pihak penengah,

Page 2 of 3 | Previous page | Next page