Chatbot dan caleg, Sudah diperlukan atau terlalu berlebihan ?

Bila anda sebagai caleg dan saat ini mengandalkan blog,website ataupun twitter untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat?, Apakah pernah mempertimbangkan media baru chatbot sebagai channel baru ?

Calon pemilih/user anda tidak perlu install aplikasi mobile baru, cukup dengan aplikasi yang sudah ada seperti TelegramBot, line messenger, facebook messenger, skype, slack , Kik ataupun website , user anda dapat menemukan anda pada platform tersebut.

Konten tentang latar belakang anda, riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan, pandangan anda tentang strategi pertumbuhan ekonomi daerah, pemerataan ekonomi, menaikkan lapangan kerja, menurunkan jumlah pengangguran, alokasi biaya pendidikan, biaya kesehatan, kesemuaya itu disimpan pada aplikasi chatbot.

Dengan teknologi yang dinamakan NLU (Natural language understand), konten tersebut dapat dipiliah, diklasifikasikan, disajikan sebagai konten tanya jawab antara anda yang diwakili chatbot dengan user anda.

Bagaimana teknologi itu NLU itu bekerja ?. Bila user-user anda bermaksud menanyakan riwayat pendidikan, user-user tersebut akan mengeluarkan variasi ribuan pertanyaan seperti ini misalnya?

1. Dulu sekolah di mana saja ?

2. Latar belakang pendidikan anda ?

3. Bisa dijelaskan riwayat pendidikan saudara ?

4. Saudara dulu makan sekolahan di mana aja ?

5. Bro, ente pernah sekolah ? di mana aja ?

6. Sis, saya ingin tahu dong latar pendidikan sis ?

7. Dulu pernah kuliah ?

8. SD, SMP, SMA di mana aja ?

9. Pernah sekolah ? di mana ?

10. Tolong sebutkan latar belakang pendidikan anda !

dan variasi ratusan ribu pertanyaan yang intinya menanyakan latar belakang pendidikan anda.

Dalam terminoologi chatbot, hal ini disebut sebagai Intent yaitu Maksud. Dari variasi ribuan pertanyaan ini, Aplikasi AI pad chatbot mendeteksi 1 intent yaitu menanyakan riwayat pendidikan ?.vApakah kita perlu melakukan input variasi ribuan pertanyaan tentang riwayat pendidikan caleg ini ?. Tidak perlu, cukup seperlunya saja, maka teknologi akan melakukan prediksi, klasifikasi, memberikan scoring terhadap chatting user. Aplikasi AI akan berusaha mengumpulkan scoring tertinggi dari chat user tersebut, bila score untuk intent/maksud bertanya tentang riwayat pendidikan memperoleh score tertinggi dibandingkan dengan intent yang lain, maka aplikasi chatbot akan menjawab pertanyaan tentang latarg belakan pendidikan. Contoh konkrit begini

user bertanya : Sekolah SMA Anu di Banten kekurangan dana, banyak gaji guru honorer yang belum dibayar hingga 9 bulan, bagaimana pendapat anda ?

Aplikasi chatbot akan menganalisa kata-kata tersebut,

katakan pada chatbot terdapat intent sebagai berikut

1.Intent : Riwayat pendidikan caleg

2.Intent : Riwayat pekerjaan caleg

3.Intent : Issue tentang Pemerataan Ekonomi

4.Intent : Issue tentang kesenjangan sosial

5.Intent : Issue tentang tunjangan guru honorer

6.Intent : Issue tentang tersedianya lapangan pekerjaan

7.Intent : Pertanyaan tentang dapil wilayah mana caleg ini berada

Aplikasi chatbot akan mengklasifikasikan dari pertanyaan user, kira-kira manakah yang mendekati intent yang dimaksud. Ternyata dari perhitungan chatbot , pertanyaan diatas ini lebih tinggi scorenya untuk intent nomor 5 ketimbang intent nomot 1. Maka chatbot akan menampilkan jawaban untuk untent nomor 5.

Apakah chatbot bisa salah ? ya tentu saja, bila data untuk Intent tidak ada, atau data kata per kata gagal dianalisa sebagai suatu intent tertentu. Bila hal ini, maka chatbot perlu ditraining. Apakah yang dimaksud training ?,

Chatbot perlu diajari kembali dalam mengenal suatu kata dan perlu dibuat intent tambahan untuk pertanyaan tersebut.

Chatbot akan semakin pintar bila setiap saat rajin di-training.

Contoh lain :

User bertanya : SMA di anu sepertinya ada mismanajemen, dana yang turun dari pusat, tidak digunakan semestinya, tidak ada fasilitas tambahan pada sekolah tersebut, bagaimana pandangan anda tentang kasus ini ?

Apabila chatbot tersebut belum mempersiapkan jawaban seperti ini, maka kemungkinan chatbot akan salah memberikan data jawaban,

sehingga chatbot perlu ditraining untuk menyiapkan jawaban atas dugaan korupsi pada sekolah tersebut.

Maka diperlukan untuk membuat intent baru dan identifikasi kata-kata atapun kalimat-kalimat yang bermaksud mengarah pada intent issue tentang penyalahgunaan dana pendidikan.Sampai tahap ini, sudah bisakah pembaca membayangkan bedanya seorang caleg mengandalkan media webste/blog/twitter dengan chatbot ?

Tentu saja media yang sudah exist seperti website/blog/twitter tidak perlu diberhentikan, karena tetap akan berguna, Chatbot sebagai media baru memiliki fitur ideal yaitu dapat menjawab pertanyaan user 24 jam sehari, Dapat dilatih sehingga semakin pintar, semakin menyerupai caleg tersebut. Dalam tahap pertentu, chatbot akan bertindak sebagai juru bicara caleg/politisi tersebut.

Page 2 of 3 | Previous page | Next page