K

@kukuh

Kukuh TW

Linkedin : https://linkedin.com/kukuhtw
Facebook : https://facebook.com/kukuhtw
Instagram : https://instagram.com/kukuhtw
x.com: https://x.com/kukuhtw
Threads : https://www.threads.com/@kukuhtw
KumpulBlogger.com: https://kumpulblogger.com/blog/kukuhtw
Tiktok.com : https://www.tiktok.com/@kukuhtw

Federasi

Cara mengikuti (follow) Kukuh TW

Situs ini adalah node FPDP independen, bukan platform terpusat — jadi tidak ada tombol “Follow” sekali klik seperti media sosial biasa. Untuk mengikuti, Anda memerlukan node FPDP (atau node kompatibel) sendiri. Buka dashboard Federasi di node Anda, lalu kirim permintaan follow ke alamat berikut:

Setelah terkirim, permintaan Anda berstatus Pending sampai Kukuh TW meng-approve atau reject dari dashboard Federasi miliknya. Pemilik akun ini dapat melihat dan mengelola permintaan follow yang masuk di /dashboard/federation setelah masuk (login).

Bukan Cuma Buruh Pabrik: Kelas Profesional Kini Mulai Cemas pada AI

  Selama bertahun-tahun, pekerjaan profesional bergaji tinggi dipandang sebagai wilayah yang relatif aman dari otomatisasi. Gelar pendidikan, kemampuan analitis, pengalaman korporat, dan penguasaan alat digital dianggap sebagai pagar pelindung yang sulit ditembus mesin. Namun, munculnya kecerdasan buatan generatif mengubah asumsi itu. Jika gelombang otomatisasi lama banyak menekan pekerjaan manual dan rutin, gelombang AI terbaru justru mulai menyentuh pekerjaan kerah putih yang selama ini identik dengan gaji tinggi dan status profesional [1]. 

https://kumpulblogger.com/blog/kukuhtw/689/Bukan_Cuma_Buruh_Pabrik_Kelas_Profesional_Kini_Mulai_Cemas_pada_AI

Jev dan Arah Baru AI: Ketika Kecerdasan Tidak Lagi Harus Banyak Bicara

Selama beberapa tahun terakhir, kemajuan kecerdasan buatan identik dengan kemampuan model untuk berbicara semakin natural, menulis semakin baik, memahami instruksi kompleks, membuat kode, dan melakukan reasoning dalam percakapan. ChatGPT, Claude, Gemini, dan berbagai large language model lain menjadi simbol era ini. 

Namun muncul pertanyaan yang semakin relevan ketika AI mulai masuk ke software enterprise: apakah setiap keputusan yang dibuat mesin benar benar membutuhkan model yang mampu menulis paragraf panjang? Apakah sistem yang hanya perlu memutuskan “approve”, “reject”, “retry”, “escalate”, atau memberi skor risiko harus selalu memanggil sebuah LLM generatif yang besar?  

https://www.linkedin.com/pulse/jev-dan-arah-baru-ai-ketika-kecerdasan-tidak-lagi-harus-wicaksono-jiyac/

testing link ke posting di facebook

GPT-6 Astra vs GPT-5.6 Sol: AI Mulai Berubah dari Asisten Menjadi Pekerja Digital
Selama beberapa tahun terakhir, kita terbiasa melihat kecerdasan buatan sebagai mesin yang sangat pintar untuk menjawab pertanyaan. 

Kita menulis prompt, AI membaca instruksi, kemudian beberapa detik kemudian muncul jawaban di layar. Pola tersebut bekerja sangat baik untuk menulis artikel, menerjemahkan bahasa, membuat source code, menganalisis dokumen, atau membantu mencari ide. 

Namun kemunculan GPT-6 Astra menunjukkan bahwa arah perkembangan AI mulai berubah. Pertanyaan mengenai kemampuan AI sekarang bukan lagi sekadar, “Seberapa pintar model ini menjawab pertanyaan?” Pertanyaan yang jauh lebih penting mulai menjadi, “Seberapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan AI setelah kita memberikannya sebuah tujuan?”


https://web.facebook.com/kukuhtw/posts/pfbid02WNCzQi59MwrX5pwdFyZE4Q1YxGuGqWbJREUxkFsMmqgFVz9sktUk1w2Co6Ho2Vd1l